Kamis, 03 Februari 2011

Tan Malaka


Siapakah Tan Malaka? Dalam sejarah Indonesia ia sosok yang misterius. Buku-buku sejarah yang terbit setelah tahun 1965 tidak pernah mencantumkan namanya, apalagi kisahnya. Perannya dalam sejarah Indonesia kabur, padahal pada tahun 1963 Presiden Indonesia Soekarno secara resmi mengangkatnya menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Dalam konteks Orde Baru ia adalah pahlawan nasional yang kontroversial karena ia termasuk dalam golongan orang-orang komunis (menurut orang-orang dari partai nasionalis dan partai agama), golongan yang amat ditabukan untuk menjadi pahlawan pada periode sejarah ini. Oleh karena itu ia sempat dilenyapkan dalam barisan pahlawan nasional. Namanya dicoret dari Album Pahlawan Bangsa, yang mengindikasikan jika saja ia belum mendapatkan gelar tersebut sebelum tahun 1965 kemungkinan besar gelar itu tidak akan pernah diraihnya sama sekali.

Pada masa Orde Baru pengagum dan yang mengenal sosoknya hanyalah para veteran Partai Murba dengan jumlah yang amat kecil. Sosoknya memudar dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia seiring dengan proses stigmatisasi terhadap apapun yang berhaluan kiri. Dengan ragu-ragu Harry A. Poeze mengatakan bahwa jikalau ia disebut dalam buku pelajaran sejarah ia ditempatkan dalam posisi sebagai seseorang yang telah memperlemah persatuan dalam perjuangan revolusi. Di tanah kelahirannya Minangkabau ia sempat menjadi keramat, menjadi mitos. Pada 1950-an, di berbagai kota dan desa di Minangkabau setiap orang tua menceritakan kepada anak-anaknya kehebatan Tan Malaka, yang konon bisa menghilang secara gaib dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, yang jaraknya terpaut ratusan kilometer, hanya dalam satu kedipan mata. Sebelum ia kembali dan menetap di Indonesia, sejak tahun 1913 memang menjadi pengembara  yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jarak tidak hanya ratusan kilometer bahkan ribuan kilometer, namun bukan dalam satu kedipan mata. Pengangkatannya sebagai pahlawan dan pemitosannya oleh sekelompok masyarakat menjadi simbol bahwa Tan Malaka merupakan sosok yang bersepak terjang jauh melebihi sepak terjang masyarakat kebanyakan.

Riwayat Tan Malaka dalam panggung sejarah Indonesia dimulai tahun 1913 ketika salah seorang gurunya (G.H. Horensma) di sekolah guru di Bukittinggi membawanya ke negeri Belanda sewaktu yang bersangkutan mengambil cuti. Ia kemudian dimasukan ke sekolah guru (Kweekschool) di Haarlem. Harry A. Poeze dalam bukunya yang lain mengemukakan bahwa selama tinggal di negeri Belanda Tan Malaka menanggung banyak hutang kepada pemberi dana pendidikan di Sumatera dan kepada guru yang membawanya ke negeri Belanda. Hutang yang menumpuk dan kondisi kesehatan yang beberapa kali menurun membuat motivasinya untuk belajar menurun. Tahun 1919 ia angkat koper dan menjadi guru anak-anak kaum buruh perkebunan tembakau di Sumatera Timur setelah sebelumnya memperoleh ijazah guru.

Tan Malaka berada di negeri Belanda ketika gagasan revolusioner sedang tumbuh di seluruh kawasan Eropa. Ide-ide Karl Marx tentang komunisme sedang disemai dalam ujudnya yang praksis. Buku terbaru dari Harry A. Poeze yang sedang kita diskusikan ini sayangnya tidak mengungkap pengembaraan Tan Malaka di Eropa sehingga tidak jelas benar bagaimana ide-ide komunisme mulai menariknya, sampai ia menerjuninya secara praksis. Di negeri  Belanda lah minat politik Tan Malaka tergugah dan terbentuk. Ia menjadi seorang nasionalis yang berkobar-kobar sekaligus menjadi simpatisan komunisme yang aktif. Ia sangat tertarik dengan kemenangan revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917. Gagasan-gagasannya terbentuk antara lain di dalam kelompok diskusi yang ditokohi oleh Sneevliet dan gagasan itu ia lahirkan kembali dalam bentuk artikel. Aktifitas Sarekat Islam (SI) yang sedang marak di Jawa bisa jadi telah terdengar di telinga Tan Malaka, sehingga tahun 1921 ia meninggalkan gaji yang lumayan tinggi di perkebunan Senembah, Deli, Sumatera Timur lalu berangkat ke Jawa. Perkenalannya dengan Sarekat Islam melalui seorang sahabatnya, R. Soetopo, guru Sekolah Pertanian di Purworejo. Soetopo membawa Tan Malaka ke kongres Centrale Sarekat Islam (CSI) di Yogyakarta yang berlangsung pada tanggal 2-6 Maret 1921. Di tempat inilah Tan Malaka bertemu dengan Semaoen, tokoh pendiri PKI. Semaoen sangat tertarik dengan Tan Malaka karena konon, baginya Tan Malaka merupakan Bumiputra terpelajar pertama yang mengenal dan akrab dengan Marxisme. Kongres CSI di Yogyakarta berlangsung dalam suasana persaingan antara Sarekat Islam dan PKI. Seperti kita ketahui PKI lahir dari rahim Sarekat Islam dengan julukan ”Sarekat Islam merah”. Hubungan antara SI dan PKI secara resmi terputus pada Kongres Luar Biasa CSI di Surabaya tanggal 6-10 Oktober 1921. Dalam perpecahan inilah Tan Malaka lebih tertarik kepada PKI dibandingkan dengan SI.

Kedatangan Tan Malaka ke Jawa bagi Semaoen merupakan darah segar yang memberi gairah baru dalam konteks persaingan dengan SI dalam rangka menarik lebih banyak kader-kader SI agar bergabung dengan PKI. Semaoen kemudian meminta Tan Malaka untuk datang ke Semarang dan diajak untuk mendirikan sekolah berdasarkan doktrin Marxisme untuk anak-anak anggota SI. Pada tanggal 21 Juni 1921 berdirilah sekolah pertama dengan murid sebanyak 50 anak. Pada Maret 1922 sekolah sejenis telah tersebar sampai ke Bandung dengan 200 murid. Pendirian sekolah-sekolah ini sangat berhasil sehingga melambungkan nama Tan Malaka sehingga pada kongres PKI ke-8  di Semarang tanggal 25 Desember 1921 ia terpilih menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen karena Semaoen berangkat ke Moskow.

Periode ini ditandai dengan semakin mengerasnya pertentangan antara SI dengan PKI yang ditandai saling kritik antara keduanya. Tan Malaka walaupun ia aktif di PKI tetapi ia berlatar belakang Islam. Dalam konteks ini ia tetap mempertautkan antara Islam sebagai ideologi perjuangan dengan komunisme sebagai ideologi yang sekaligus juga sebagai jalan perjuangan. Agus Salim dari kubu SI secara tegas menekankan sifat revolusioner SI tetapi tidak demi kepentingan satu kelas saja dalam masyarakat. Jika  ada perjuangan nasional yang hanya mewakili kepentingan satu kelas masyarakat saja, SI akan menentangnya. Menerima argumen tersebut berarti mematuhi disiplin partai mengenai larangan terhadap keanggotaan rangkap. Tan Malaka mencoba menangkis dengan mengatakan agar pengecualian dibuat terhadap PKI, sebab komunis merupakan sekutu Islam di mana saja dalam melawan imperialisme.  Bahkan Semaoen menambahkan, jika SI meninggalkan sayap kirinya maka SI akan kembali ke tahap awal, yaitu sebagai organisasi pedagang Islam belaka.  Semaoen bahkan mengkritik peran agama (Islam) sebagai alat untuk bergerak. Menurutnya agama tidak mencukupi sebagai dasar pergerakan rakyat Hindia karena bisa saja memihak kepada ideologi kapitalis atau sosialis. Selain itu tidak semua orang Hindia beragama Islam.  Terhadap semua itu Agus Salim menjawab bahwa dalam Al Qur’an segala doktrin Marxisme sudah tercakup, termasuk Dialektika Materialisme. Masalahnya SI tidak mungkin membiarkan diri sebagai ajang pertarungan partai lain. Bahkan Agus salim tidak khawatir jika banyak anggota SI yang keluar hanya karena SI menerapkan disiplin partai dengan tidak menjadi anggota di dua organisasi (partai). Ia lebih mantap jika SI menjadi partai kader yang kuat dari pada partai yang banyak anggotanya tetapi keropos.

Tan Malaka sebenarnya tidak pernah rela CSI terpecah menjadi SI dan PKI, ia menghendaki keduanya tetap bersatu karena hanya dengan cara itulah bangsa Indonesia bisa menghadapi tekanan dari penjajah. Seruan untuk bersatu menjadi tema besar kongres PKI ke-8 pada tanggal 25 Desember 1921 di Semarang. Untuk membahas cara mencapai persatuan itu maka diundang pula utusan CSI, Sarekat Hindia, dan SI lokal. Dalam kesempatan itu Tan Malaka berpidato selama empat jam lamanya untuk membela gagasan persatuan itu. Persatuan juga merupakan garis yang sejak semula dianut oleh pendahulunya, Semaoen. Dalam pidato itu Tan Malaka membandingkan sukses Kongres Nasional India dan gagalnya organisasi pergerakan Indonesia menggalang persatuan. Kongres Nasional India mampu melancarkan gerakan nonkooperasi yang tidak bisa ditindas oleh Inggris, sementara pergerakan Indonesia terpecah belah menghadapi Belanda yang jauh lebih lemah daripada Inggris.

Pidato Tan Malaka tersebut sebenarnya didukung oleh semua peserta kongres namun kemudian dimentahkan kembali oleh Abdoel Moeis yang datang setelah pidato selesai. Abdoel Moeis membuka luka lama tentang hubungan SI dan PKI yang membuat pemimpin komunis bergaris keras menggugat sehingga persatuan kembali terancam, jika saja KH. Bagus Hadikusumo, utusan Muhammadiyah tidak turun tangan. Ia angkat bicara membela pidato Tan Malaka. Menurut Hadikusumo mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, dan pergerakan bertujuan melawan penindasan bangsa asing yang kafir. Gerakan perlawanan hanya dapat dijalankan jika rakyat bersatu. Ia menyeru bahwa siapa saja yang merusak persatuan berarti memihak musuh dan menentang Islam. Seruan Hadikusumo cukup manjur karena dapat mencegah perpecahan yang lebih parah. Tan Malaka mengibaratkan Hadikusumo sebagai dukun ampuh yang menolong seorang yang sedang sekarat. Akhirnya CSI sepakat untuk bekerja sama kendati hanya dalam program-program khusus. Kongres memilih Tan Malaka sebagai ketua menggantikan Semaoen. Kongres ditutup dengan mengirim telegram yang menyatakan dukungan kepada Kongres Nasional India. Namun telegram itulah yang kemudian menjadi senjata makan tuan bagi Tan Malaka, sehingga ia tidak bisa mengawal ide persatuan yang lahir dari kongres itu. Tidak lama setelah telegram terkirim, Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang dari Hindia Belanda karena dukungannya terhadap Kongres Nasional India.  Maret 1922 ia berangkat kembali ke negeri Belanda, yang segera disambut sebagai martir dari kolonialisme Belanda oleh kawan-kawan seperjuangannya di Belanda. Sosoknya ditempatkan pada posisi yang amat tinggi dengan dicalonkan menjadi anggota Tweede Kamer dari golongan komunis pada pemilu bulan Juli 1922 di Belanda. Namun usaha kawan-kawannya tersebut gagal karena partainya hanya mendapat dua kursi (Tan Malaka ditempatkan dalam urutan ketiga dalam daftar calon). Dari sini perjalanan petualangannya yang lebih jauh, baik secara fisik maupun intelektual, dimulai. Ia menghabiskan waktunya dari satu negara ke negara lainnya selama duapuluh tahun, sampai ia memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 1942 bersamaan dengan didudukinya Indonesia oleh Bala Tentara Jepang.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa selama periode pergerakan nasional, peran Tan Malaka dalam waktu yang amat singkat di tanah airnya ternyata amat besar. Ketika berbagai organisasi masih berkutat pada persoalan-persoalan domestik, Tan Malaka telah menyerukan bahwa tanpa persatuan mustahil perjuangan melawan penjajah akan berhasil.

0 komentar:

Posting Komentar