WELCOME to putradaribunda On Line

Terima kasih telah mengunjungi BLOG ini. Blog ini berisikan informasi yang sifatnya membangun dan jauh dari hal-hal berbau pornografi, karena blog ini mempunyai konsep edukasi.

About Me

Contact, personal information, education background, organizational background, working experiences, job skill, computer skill, hobbies.

Tampilkan postingan dengan label Berita Batu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Batu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Badai Matahari, materialnya diperkirakan mencapai Bumi!

Badai matahari terbentuk karena terjadinya gejolak di atmosfer matahari yang dipicu terbentuknya bintik hitam. Kondisi ini dapat mengakibatkan loncatan api (solar flare) yang materinya dapat terlontar ke Bumi. Ketika materi tersebut melintas di atmosfer Bumi, maka terjadilah Aurora dan badai elektromagnetik.

Partikel dari badai Matahari tersebut diperkiran sampai ke Bumi pada tahun 2011-2012. Partikel bermuatan listrik ini dapat menghasilkan noise atau gangguan besar pada frekuensi radio 1,2GHz - 1,6GHz. Ini sangat mengancam sinyal GPS.

“Jumlah dan intensitas noise akan meningkat dan dapat mengaburkan sinyal GPS selama periode ini,” kata Paul Kintner dari Departemen Teknik Elektro Universitas Cornell. Keakuratan GPS akan berkurang hingga 90%, dan dapat rusak. Hal ini sangat membahayakan dunia penerbangan, di mana fungsi GPS sudah seperti “nafas pada Manusia.

Hal ini pernah terjadi beberapa tahun silam, tepatnya pada akhir oktober 2003. Pada waktu itu, tidak hanya satelit GPS saja yang rusak, tapi juga satelit komunikasi publik.

Namun, yang paling bahaya adalah apabila distribusi listrik terganggu…! Pada 28-30 Oktober 2003, hampir seluruh pembangkit listrik di dunia dinonaktifkan untuk sementara. Apabila listrik tidak dimatikan, maka akan terjadi kerusakan pada pembangkit-pembangkit listrik di setiap negara. Hal ini disebabkan karena terjadinya ketidakstabilan medan magnet di Bumi.

Dampak di Bumi
Terdapat beberapa dampak badai antariksa yang terjadi tanggal 28 dan 30 Oktober 2003. Dari pengamatan lapisan ionosfer di Tanjungsari, Sumedang, diketahui terjadi penurunan kerapatan elektron secara drastis di lapisan tersebut. Bahkan, begitu rendahnya kerapatan elektron di lapisan ionosfer itu membuat peralatan ionosonda IPS71 tidak mampu merekam keberadaan lapisan tersebut.
Keadaan seperti itu disebut blackout (lihat ilustrasi gambar 2), dan di dunia komunikasi radio ditandai dengan putusnya komunikasi secara tiba-tiba dalam waktu cukup lama. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan sinyal gelombang pendek yang dipancarkan dari Kota Songkla (Thailand bagian selatan) dan diterima di Tanjungsari (gambar 3).

Pada tanggal 30 Oktober 2003, komunikasi Songkla-Tanjungsari putus sampai dua kali. Pertama, blackout selama sekitar empat jam terjadi antara pukul 02.36 WIB sampai dengan pukul 06.36 WIB, dan yang kedua kalinya berlangsung selama lima jam mulai pukul 08.36 WIB sampai 13.36 WIB.
Di antara kejadian blackout pertama dengan yang kedua, sinyal radio masih dapat diterima di Tanjungsari, namun sangat lemah.
Pemantauan sinyal gelombang RRI Jakarta pada frekuensi 9,680 MHz dan ABC Australia pada frekuensi 21,680 MHz juga mengalami gangguan pada hari itu. Bahkan, siaran RRI Jakarta, yang secara rutin dipantau sekitar pukul 9.00 WIB, pada hari itu tidak bisa dipantau.

Siaran ABC, yang dipantau setiap hari pukul 11.00-11.30 WIB, penerimaannya sangat buruk dan tidak seperti hari-hari sebelumnya. Keadaan serupa juga masih terjadi pada hari berikutnya. Bahkan, sinyal gelombang ABC Australia yang sehari sebelumnya masih dapat dipantau, tanggal 31 Oktober 2003 sama sekali tidak dapat dipantau.

Dampak yang lain lagi adalah meningkatnya ketinggian lapisan ionosfer. Beberapa saat sebelum blackout, tanggal 30 Oktober 2003, ketinggian lapisan ionosfer di atas Tanjungsari cenderung meningkat dan sesaat setelah blackout ketinggian lapisan ionosfer mencapai lebih dari 700 km dari permukaan Bumi. Ketinggian lapisan ionosfer normal biasanya hanya sekitar 300-500 km.

Ketinggian yang abnormal seperti ini juga masih terjadi pada tengah hari tanggal 31 Oktober 2003. Kenaikan ketinggian lapisan ionosfer secara drastis ini juga akan menyebabkan putusnya komunikasi radio. Keadaan yang tidak normal kemungkinan juga akan berdampak terhadap satelit orbit rendah (LEO). Selain itu, kami juga mendeteksi adanya kemungkinan gangguan sintilasi terhadap sinyal satelit pada tengah malam tanggal 30 Oktober 2003 sampai dengan dini hari tanggal 31 Oktober 2003 selama lebih dari 6 jam.



Jumat, 28 Januari 2011

Penyebab matahari terbit lebih awal masih diperdebatkan



Para ilmuwan masih memiliki beberapa pendapat berbeda mengenai penyebab matahari terbit 48 jam lebih awal di Kota Ilulissat, Greendland, di sebuah kota yang hanya mengalami matahari terbit satu kali saja dalam setahun.

Tahun ini, matahari terbit pada Selasa (11/1) pukul 13 waktu setempat, 48 jam lebih awal dari biasanya. Fenomena terbit awal ini baru pertama kali terjadi karena matahari biasanya terlihat oleh penduduk kota itu pada tanggal 13 Januari setiap tahunnya.

Para ilmuwan masih berbeda pendapat mengenai fenomena ini. Beberapa penjelasan hipotetik coba diungkapkan, termasuk soal ilusi yang disebabkan efek atmosfer dan pemanasan global yang telah menyebabkan mencairnya lapisan es di Greenland.

Thomas Posch, ilmuwan dari Institute for Astronomy, University of Vienna, mengatakan bahwa fenomena itu bisa terjadi karena adanya perubahan cakrawala setempat. Teorinya itu berdasarkan data penurunan lapisan es di Greenland yang terjadi secara bertahap. Dengan lapisan es yang semakin tipis, ketinggian Greenland pun berkurang sehingga matahari melalui jarak lebih pendek sebelum muncul di cakrawala.

Akan tetapi Wolfgang Lenhardt, direktur departemen geofisika di Central Institute for Meteorology Vienna menyangkal teori tersebut. Soalnya menurut dia, tatanan bintang-bintang tidak berubah. "Data rotasi dan sumbu bumi yang dipantau dengan cermat secara terus-menerus juga tidak menunjukkan perubahan apa pun. Jika itu terjadi, tentu seluruh dunia sudah geger," katanya seperti dikutip DailyMail.

John Walsh, Profesor Ilmu Atmosfer Universitas Alaska Fairbanks sependapat dengan Lenhardt. "Singkatnya, tidak ada perubahan yang benar-benar terjadi pada peristiwa terbitnya matahari di Greenland karena hal tersebut memerlukan perubahan parameter orbit bumi-matahari," tegasnya kepada LiveScience.

Informasi pengamatan yang akurat terhadap fenomena ini masih sangat diperlukan. Karena tanpanya, kata profesor Richard Alley dari Universitas Pennsylvania, sulit untuk menentukan penyebab fenomena matahari yang terbit lebih dini tersebut.

Di Kutub Utara, matahari hanya terbit sekali dalam setahun. Terbitnya matahari sekaligus menandai dimulainya musim semi. Sementara kota Ilulissat terletak sekitar 3 derajat sebelah utara, persis di atas Lingkaran Kutub Utara sehingga penduduk kota itu tidak mendapatkan sinar matahari sepanjang pertengahan musim dingin.(LiveScience/Daily Mail)



referensi: http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/440/penyebab-matahari-terbit-lebih-awal-masih-diperdebatkan

Selasa, 25 Januari 2011

Pulau kecil punya 7 gunung


Sebuah pulau kecil di Kepulauan Aleutian, wilayah Amerika Serikat, memiliki tujuh gunung.

Pulau kecil bernama Semisopochnoi tersebut memiliki luas 221,59 kilometer persegi. Bandingkan dengan Pulau Bali yang memiliki luas 5.634 kilometer persegi.

Puncak gunung yang ada di Semisopochnoi tersebut adalah Cerberus, Sugarloaf, Lakeshore Cone, Anvil, Pochnoi, Ragged Top, dan Three-quarter Cone. Wilayah tertinggi di adalah Anvil yang memiliki tinggi 1.221 meter. Gunung Api Cerberus setinggi 774 meter dan wilayah vulkaniknya tumbuh dari dasar laut.

Aktivitas vulkanik yang paling terdokumentasikan adalah Cerberus. Erupsi besar gunung tersebut terjadi terakhir pada tahun 1873. Sementara itu, erupsi terakhir yang terjadi di pulau ini adalah erupsi Sugarloaf, tahun 1987.

Pulau yang berjarak 2.050 kilometer dari wilayah Anchorage, Alaska, ini tidak memiliki mamalia darat asli. Meski demikian, Semisopochnoi sangat penting perannya sebagai tempat bersarang alami bagi burung-burung di wilayah Pasifik Utara.

Populasi burung di wilayah ini pernah terancam karena introduksi rubah arktik sejak abad ke-19 untuk dimanfaatkan bulunya. Pada tahun 1997, dua rubah arktik terakhir telah dipindahkan agar burung mendapat tempat lebih aman.

Sebagai bagian dari Alaska Maritime National Wildlife Refuge (AMNWR), pulau ini sekarang mendukung penyelamatan lebih dari seribu burung, terutama burung auklet. (Yunanto Wiji Utomo)

sumber: http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/343/pulau-kecil-punya-7-gunung