WELCOME to putradaribunda On Line

Terima kasih telah mengunjungi BLOG ini. Blog ini berisikan informasi yang sifatnya membangun dan jauh dari hal-hal berbau pornografi, karena blog ini mempunyai konsep edukasi.

About Me

Contact, personal information, education background, organizational background, working experiences, job skill, computer skill, hobbies.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2008

Globalisasi ???

Ø Globalisasi, Apa sich ???

Globalisasi merupakan era pasar bebas.[1]. Sedangkan menurut definisi Bank Dunia, globalisasi adalah proses integrasi ekonomi dan masyarakat melalui arus informasi, ide, aktivitas, teknologi, barang, jasa, modal, dan manusia antarnegara.[2]

Globalisasi adalah perluasan hubungan ekonomi diantara negara–negara yang berbeda dalam membuat sebuah tatanan ekonomi dunia yang didalamnya terdapat ketergantungan satu sama lain di setiap bidang perekonomian nasionalnya. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan yang saling terikat antara negara yang satu dengan negara yang lain, maka diperlukan adanya pertukaran hasil-hasil produksi dari satu negara dengan negara lain. Oleh karenanya diadakan kebijakan-kebijakan untuk mempermudah dalam aktivitas-aktivitas tersebut.

Suatu hubungan antarnegara ini menjadikan suatu sistem yang cukup penting dalam melakukan pertukaran-pertukaran hasil produksi. Hasil produksi dari suatu negara yang surplus dapat didistribusikan ke negara lain yang mengalami minus ataupun sebaliknya. Hasil-hasil produksi ini dapat meliputi hasil produksi pabrik (elektronik, komputer, tekstil, mobil, etc), hasil produksi alam (beras, minyak bumi, batubara, kelapa sawit, ikan/daging, etc), ataupun modal.


Ø Gimana Model Pergerakan Globalisasi ini

Sistem “Globalisasi” ini ada kemiripan dengan sistem “Barter[3]” yang diterapkan oleh orang-orang pada zaman dahulu. Pada suatu negara yang mengalami surplus hasil produksi akan mencari negara yang dapat mencukupi minus pada negara tersebut untuk dilakukan kerjasama. Sebagai contoh saja, Rusia mempunyai persenjataan yang cukup canggih, namun negara ini mengalami minus beras. Sedangkan Indonesia dapat memenuhi kebutuhan beras yang ada di Rusia. Maka dilakukanlah kerjasama antara Rusia-Indonesia dengan melakukan barter antara “Pesawat=Beras”.

Pada hakekatnya, sistem globalisasi ini sangat menguntungkan. Namun pada pelaksanaannya, terjadi banyak ketimpangan serta banyak pihak yang memanfaatkan pengadaannya. Pertukaran yang kurang merata atas pemilik modal sangat mencolok dalam sistem ini. Dimana suatu negara yang mempunyai modal yang tinggi dapat menguasai serta menyetir (memobilisasi) arah gerak daripada sistem ini. Negara multinasional serta negara-negara berat cukup menguasai ekonomi dunia. Dan sangat jelas akibat yang muncul, mereka dapat menguasa perekonomian dunia yang mana kalangan negara multinasional serta negara-negara barat dapat bermain dalam sistem harga internasional.

Dengan adanya globalisasi, negara-negara multinasional maupun negara-negara barat dapat menggunakan tenaga kerja/buruh dari negara lain (negara berkembang maupun miskin) dengan gaji yang rendah. Hal ini bisa saja terjadi, karena kebutuhan ekonomi yang tinggi. Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi negara-negara maju.

Tak bisa dipungkiri pula, negara sistem ekonomi kapital (modal) sangat berperan dalam adanya Globalisasi ini. Sejak awal dengang-dengung Globalisasi, telah dirancang segala persiapan yang mendukung. Lembaga-lembaga ekonomi (WTO, G8, IMF, dan Bank Dunia) yang pada awalnya didirikan untuk membantu kesulitan suatu negara, khususnya negara berkembang maupun negara miskin. Tapi pada kenyataannya, lembaga-lembaga ini justru menjerumuskan negara berkembang dan negara miskin semakin tenggelam. Semisal resep IMF dengan memberikan pinjaman pada suatu negara-negara berkembang, dimana secara tidak langsung, IMF ikut menentukan kebijakan pada suatu negara. Dengan tirai pengawasan terhadap dana yang telah dipinjamkan, mereka ikut menyetir kebijakan suatu negara.


Ø Pengaruh Globalisasi di Dunia

Secara global, dapat kita rasakan dampak-dampak yang terjadi akibat globalisasi ini. Dengan pemberian pinjaman kepada negara-negara berkembang, dimana suatu negara yang sedang dilanda oleh krisis, IMF menggunakan kebijakannya untuk membawa suatu negara pada dunia pasar bebas yang syarat akan liberalisme.

Resep IMF dan World Bank kepada negara-negara berkembang untuk bisa berpartisipasi dalam dan memetik untung dari integrasi global adalah privatisasi, liberalisasi pasar modal, penentuan harga yang murni berdasarkan kekuatan pasar, serta pengentasan kemiskinan. Keempat tahap ini dijadikan paket standar oleh IMF/Bank Dunia setiap kali memberi asistensi kepada negara-negara yang membutuhkan.[4]

Pengaruh pasar bebas ini, juga terjadi pada bangsa Indonesia, negeri yang merupakan salah satu negara peminjam IMF ini.


Ø Klo Indonesia, Siap ga’ trima tamu Spesial ini

Bagaimana menanggapi datangnya Globalisasi? Secara nyata kondisi Indonesia saat ini kurang siap, bahkan bisa dibilang belum siap. Kondisi negeri ini sendiri yang masih kacau belum bisa diatasi dengan baik.

Bencana banyak melanda bangsa Indonesia dalam 5 tahun terakhir ini. Mulai dari bencana Tsunami Aceh di penghujung tahun 2004, diikuti bencana di Nias, Jogyakarta, G. Merapi, G. Kelud,dll merupakan salah-satu sederetan bencana yang menghantam bangsa ini. Belum usai permasalah ganti rugi ”Lumpur Lapindo” di kota Sidoarjo, sekarang dikejutkan oleh cuaca buruk yang melanda hampir seluruh negeri ini. Banjir akibat curah hujan yang tinggi, angin puting beliung, tanah longsor dan gelombang pasang, yang secara bertubi-tubi melanda negeri ini.

Angka kemiskinan di Indonesia bisa terbilang besar. Lebih dari 50% penduduk indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal utama yang menjadi permasalahan adalah masih kurang lapangan kerja yang tersedia. Masyarakat Indonesia masih banyak yang berstatus sebagai pengangguran. Angka pengangguranpun terbilang tinggi.

Dalam hal pendidikan nasional, tidak jauh beda dan hampir selaras dengan kondisi di atas. Masih banyak masyarakat indonesia yang belum mampu mengenyam pendidikan dengan wajar. Bahkan program pendidikan 9 tahun yang telah diprogramkan hanya merupakan pemanis bibir saat berkampanye saja. Masih terpenjarakannya hak warga negara untuk bersekolah yang bertentangan dengan salah satu tujuan dari bangsa ini yaitu ”mencerdaskan kehidupan bangsa”[5]. Program BHP semakin mencederai landasan dasar bangsa ini. Hal ini akan memunculkan asumsi bahwa yang berduit yang akan mampu mengenyam pendidikan.

Melihat kondisi ekonomi pasca krisis moneter (krismon) 10 tahun lalu, Indonesia seakan belum mampu bangun dari keterpurukan. Perekonomian Indonesia masih belum stabil sepenuhnya. Aset negara banyak yang dijual guna menutupi APBN, serta banyaknya industri kecil yang gulung-tikar (bangkrut). Keterikatan bangsa ini terhadap lembaga-lembaga ekonomi dunia menyebabkan bangsa ini terlambat untuk bangun. Kekurangberanian dalam mengeluarkan kebijakan karena adanya tekanan terhadap negeri ini. Hal ini sudah menjadi rahasia umum yang tidak perlu lagi dipertanyakan.

Indonesia sekarang mirip singa dalam kurungan, hanya mampu berjalan kanan-kiri tanpa mampu keluar dari kurungan. Sekeras dan sekuat apapun raungannya, tetap tidak mampu keluar. Apabila di beri makan, langsung terdiam dan lupa akan kerasnya raungannya.

Dengan masuknya globalisasi di Indonesia, akan semakin membunuh bangsa ini. Masyarakat akan semakin menderita dan hanya akan menjadi budak, susah untuk menjadi juragan di negeri sendiri. Investor dari luar akan mudah masuk dan akan menguasai semua sektor ekonomi yang ada di Indonesia. Barang-barang dari negara lain akan masuk tanpa bisa dikontrol oleh pemerintah, sedangkan barang hasil industri dalam negeri akan menjadi nomor ke sekian. Hal ini akan membunuh industri dalam negeri dan kita akan menjadi penonton setia lakaknya penonton sinetron di televisi.

Globalisasi akan menjadi momok yang lebih menyeramkan dibanding film Jailangkung ataupun yang sejenisnya. Hal ini akan menjadi malapetaka yang susah bagi kita untuk keluar dari kondisi ini. Di saat tujuan bangsa ini tidak mampu terlaksana, Demokrasi Pancasila bukan lagi menjadi landasan dasar bangsa ini, di saat masyarakat Indonesia akan menjadi pemeran figuran di negeri tempat dilahirkannya....








[1] Arianto Patunru, Media Indonesia, 20 Desember 2002



[2] Stern, 2000



[3] Sistem tukar menukar (masa primitif)



[4] Artikel: “Globalisasi” Oleh Arianto A. Patunru



[5] Pembukaan UUD’45 alenia 4


Kamis, 27 September 2007

Kehidupan Remaja Di Ambang Bahaya

Manusia = binatang? Apakah itu mungkin? Hal ini mungkin saja terjadi. Walaupun secara teori-teori yang ada ini tak mungkin, namun secara realita (nyatanya bqt…) hal ini telah terjadi. Kenyataan yang terjadi sampai saat ini (2007), banyak banget fakta yang bilang “Manusia lebih rendah perilaku sosialnya daripada binatang”. Bahkan sifat manusia sekarang tidak lebih baik dari binatang alias liar.


Gimana hal ini bisa terjadi? Padahal secara derajad, manusia lebih beradap dari binatang. Pantaskah kita menyangkal kenyataan saat ini? Analogi yang paling simpel itu mungkin aja ada di sekitar kita, buat apa cari analogi yang jauh-jauh he….


Pernah dengar si Bechy? Si kucing imut yang ada di kostku? Pastinya belum pernah denger kan (kecuali temen-2ku yang biasa ke kost, itu lho yang warna putih abu-2, kayak anak SMA *ZK). Secara tak sengaja aku melihat ibunya (bahasa kerennya itu “Sang Induk”) mencarinya saat malam hari. Sepertinya gelisah saat mencari si Bechy. Saat itu si Bechy sedang bersamaku. Ibunya dengan sabarnya menunggu di depan pintu. Pernah juga aku memandikan si bechy di kamar mandi (taukan gimana kalo kucing di kasih mandi, me-ngeong gak karuan –Sorry gak bisa terjemahkan bahasanya- *ZK). Saat aku keluar, ibunya udah ada di depan pintu. Sifat keibuan yang masih mengkhawatirkan anaknya HEBAT...........


T’rus gimana yang terjadi dengan manusia sendiri (Aku, Kamu, Dia, Mereka, dll *ZK)? Lewat siaran media informasi (anggaplah aja media elektronik, media cetak serta media-media lain yang gak bisa ku sebutin satu-persatu) banyak terjadi kekerasan yang terjadi oleh orang tuanya. Baik kekerasan rumah tangganya sendiri maupun pada rumah tangga orang lain. Yang kayak gimana ya? Anggap aja culik anak orang, trus di bunuh secara mutilasi (dipotong-potong bagian tubuhnya) heee…eem See…reee…..em. Yang menjadi persoalan yang mengiris hati itu pembunuhan orang tua pada anaknya yang belum sempet lahir (anggaplah aborsi lah). Kok tega ya orang tua bunuh anaknya sendiri? Perasaan seumur hidup belum pernah aku denger kucing bunuh anaknya sendiri!!! Tapi ada kok binatang yang makan anaknya sendiri, kayak buaya. Tapi masalahnya kan ini soal kucing he… ga perlu dipikir soal buaya dech.


Kebanyakan sekarang ini, kasus aborsi banyak menimpa remaja. Kenapa yach…? TANYA KENAPA!!! Atau lagi musim berbuah he... mangga kale. Itupun nggak juga.


Mungkin aja karena pergaulan remaja masa kini yang cenderung bebas? Yach itu jawabnya. Kehidupan remaja sekarang telah jauh dari norma-norma yang ada dari nenek-moyang. Remaja banyak yang terbelenggu oleh kehidupan yang secara nyata telah berubah, kehidupan kini yang merupakan suatu permainan akhlak.


Di kota-kota besar (tapi jujur aja, sebenarnya sampe daerah-daerah pelosok kok, so... jangan marah ya klo daerahnya gak kesebut) seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar, Balikpapan, banyak banget terjadi penyimpangan moral di kalangan remaja. Bukan hanya itu saja, yang sangat ironis terjadi pada daerah pusat pendidikan yang seharusnya sebagai pusat pabrik intelektual justru banyak terjadi pemerkosaan moral secara besar-besaran. Buku “sex in the kost” mengungkapkan bahwa 97,5% mahasiswi Yogyakarta hilang kegadisannya.

Hal ini terbukti banyaknya remaja terpelajar justru terjerumus pada kondisi seperti ini. Pada daerah yang kurang dari pengawasan orang tua (contoh aja yach, 1.Aku lagi kuliah, 2.Adekku lagi sekolah di luar daerah) remaja cenderung bersifat liar. Metode yang di pake untuk mencurahkan kasih sayang - kayak pacaran – sudah memakai metode yang berkembang saat ini. Hubungan yang seharusnya dilakukan setelah nikah, justru dilakukan lebih dahulu. ”kenthu dhisik, lagi rabi” (kawin dulu, baru nikah *ZK), itu kata yang lagi nge-tren sekarang ini, atau seperti yang dibilang Jamrud ”Bersenang-senang dahulu Bersakit-sakit kemudian” (sorry mas Aziz salah ketik nih). Hubungan seksual di kalangan remaja sudah menjadi suatu wacana yang umum di kalangan remaja itu sendiri, enggak ada tabu lagi kalo mau ucapin ”tii........ttttt yuk, tii........ttttt yuk, tii........ttttt tii........ttttt donk”.


Pada suasana yang lebih gemerlap lagi, kita kenal yang namanya seks instan, faster packet, atau istilah-istilah lainnya. ”Enggak perlu kita kenal, ”asal happy” itupun juga ada. Hubungan seksual ini enggak perlu kita lakuin sama orang yang kita kenal. Kelakuan yang belum seharusnya dilakukan, justru menjadi permainan yang kini udah se-level playstation. Woo...uuu...wooo.


Intip Kanan Kiri

Sekarang kita lihat di sekitar kita (kali ini bukan kucing lagi, tapi betul-2 manusia yang kurang beradap). Kita yang hidup di kalangan akademik, suasana intelektual pastinya dapat merasakan hal itu.


Pertama, beredarnya film porno secara bebas. Hampir di setiap komputer remaja (kebanyakan mahasiswa *ZK) selalu ada film porno. Situs-2 di internet yang menyajikan film-2 porno udah bukan lagi menjadi rahasia (Sorry aku ngga’ tulis alamatnya, entar kamu download di warnet terdekat he... *ZK), so sangat mudah buat dapet film-2 kayak gituan. Yang sungguh ironis, konsumen sekarang bukan hanya saja dari kalangan cowoknya, tapi cewek juga banyak yang gemar nonton film begituan. Hal ini secara langsung merangsang dan membuat penasaran tiap remaja untuk melakukan adegan seperti di dalam film tersebut.


Kedua, kita yang kini hidup jauh dari BONYOK (Bokap-Nyokap *ZK), seakan bebas berbuat apapun. Mau ini-itu udah ngga’ ada yang di takutin, biarpun mau jungkir balik, BONYOK juga ngga’ bakalan tau, so....... nyante aja dech, MUMPUNG!!!. Mau pacaran sampe telanjang, mau mabok sampe mutah pokoknya free aja (dari atas kan kita bahas masalah cowok-cewek, so ngga’ perlu pikir masalah mabok dulu *ZK).


Ketiga, model pacaran yang udah berubah ngikutin zaman. Pasmudadi (Pasangan Muda-Mudi *ZK) ala kost-2an emang beda cara pacarannya. ”Ngapel sore pulang malem menjelang pagi atau mungkin sampe’ pagi alias Nginep”, beda banget semasa sekolah (SD, SMP, SMA *ZK) jam 22.00, mata BONYOK udah ngga’ karuan. Kebanyakan remaja sekarang juga banyak yang nge-sex pra nikah. Karena kan lagi nge-trend. Bahkan dari SMA, aku udah nge-denger istilah ”Pacaran kok kampanye terus, kapan nyoblosnya”, bahasa motivasi yang salah. RUSAK...RUSAK...#$! #@^$@.


Zo... Apa yang terjadi ???


Remaja sekarang kebanyakan mau tahu enaknya aja tanpa mikirin sakitnya di belakang. Mereka cenderung buta oleh silaunya nafsu yang sungguh mengasikkan. Dan ironisnya, mereka sangat menikmati hal ini, dan bahkan dijadikan aktivitas yang dianggap tidak melanggar norma.


Akibat dari hubungan yang bebas, banyak remaja yang hamil di luar pernikahan. Sebanyak 60 persen aborsi yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh remaja. kasus aborsi dilakukan karena alasan-alasan yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri seperti hamil pada pra nikah, takut tidak mampu membiayai, takut dikucilkan, malu atau gengsi. Di Indonesia, dari 2,5 juta kasus aborsi, dimana 1,5 juta di antaranya adalah aborsi yang dilakukan remaja.



”Tidak cukup sampai di situ, tentunya perilaku tersebut berkembang pada permasalahan lain, seperti HIV/AIDS dan aborsi. Ternyata HIV/AIDS tidak hanya menjangkit para pekerja seks komersial (PSK) saja, tetapi juga kalangan remaja, baik pelajar maupun mahasiswa.
Yayasan AIDS Indonesia (YAI) mengungkapkan bahwa 50% pengidap HIV/AIDS adalah usia produktif (15-29 tahun). Dipertegas dengan catatan Departemen Kesehatan (2006) bahwa sebagian besar pengidap HIV/AIDS adalah mahasiswa.

Hal di atas menandakan masih rusaknya moral remaja bangsa ini. Mungkin diantaranya termasuk kita ataupun teman terdekat kita.


So.... jangan heran kalo kita denger teman kita telat haid atau yang lebih naif untuk dibicarakan. Jangan takut juga kalo mungkin ada teman kamu minta tolong buat gugurin sang calon bayi. Karena sekarang tingkat hubungan seksual di kalanggan remaja udah tinggi. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat aborsi di tingkat remaja. Lengkap sudah penderitaan kita saat ini. Udah banyak penduduk indonesia, banyak lagi penambahan warga baru oleh remaja