WELCOME to putradaribunda On Line

Terima kasih telah mengunjungi BLOG ini. Blog ini berisikan informasi yang sifatnya membangun dan jauh dari hal-hal berbau pornografi, karena blog ini mempunyai konsep edukasi.

About Me

Contact, personal information, education background, organizational background, working experiences, job skill, computer skill, hobbies.

Minggu, 03 April 2011

Gunung Api Bawah Laut

Pengertian Gunung api yaitu lubang atau rekahan bumi yang memiliki suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi. Jadi gunung api bawah laut merupakan gunung api yang berada di bawah permukaan laut. Gunung api bawah laut merupakan salah satu komponen dalam lantai bawah samudra, sesuatu yang masih aktif di bawah permukaan air dan menghasilkan material-material vulkanik. Gunung api bawah laut sangat berbeda dengan gunung api yang terbentuk di permukaan bumi. Gunung api bawah laut sebagian besar terbentuk pada daerah dekat dengan zona pergerakan lempeng samudra yang biasa disebut mid-ocean ridges.

Gunung api bawah laut masih aktif sifatnya, tidak sedikit pula gunung api bawah laut yang masih bersifat eksplosif, namun sebagian besar sifatnya efusif. Pada beberapa daerah, gunung api bawah laut masih mengeluarkan gas pada hotspotnya dan terjadi proses hidrothermal. Hal ini sebagai reaksi magma yang langsung kontak dengan temperatur yang berbeda secara drastis seperti air. Pada gunung api bawah laut banyak dijumpai lava bantal, dimana magma yang keluar dari veins kontak langsung dengan air yang berakibat magma terbentuk secara tiba-tiba.

Beberapa gunung api bawah laut ditemui sebagai gunung laut (seamounts). Pada umumnya dijumpai dalam kedalaman antara 1.000 m sampai 4.000 m. Diperkirakan ada sekitar 30.000 buah gunung api bawah laut yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Namun hanya beberapa saja yang masih di pelajari oleh para ilmuwan dunia.

Rabu, 30 Maret 2011

Abrasi Pantai

Lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena merupakan daerah pertemuan kekuatan yang berasal darat dan laut Perubahan ini dapat terjadi secara lambat hingga cepat tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan, dan sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Oleh karena itu didalam pengelolaan daerah pessisir diperlukan suatu kajian keruangan mengingat perubahan ini bervariasi antar suatu tempat dengan tempat lain.

Bentang alam pantai di kontrol oleh aksi alamiah yang bekerja secara terus menerus. Pada dasarnya dapat dikelompokkan dua macam aksi alamiah yaitu yang bersifat menghancurkan (abrasi) dan yang besifat membangun dengan cara pengendapan (sedimentasi).

Selanjutnya pengertian dari abrasi (pengikisan pantai) merupakan bagian dari gejala alam atau proses geologi. Dimana seiring perubahan iklim dan curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan gelombang dan arus semakin meningkat yang mengakibatkan abrasi pantai. Dimana abrasi atau pengikisan pantai merupakan proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak, abrasi biasanya disebut juga erosi pantai, namun manusia sering menyebut sebagai abrasi.

Gaya erosi yang bekerja di daerah pantai, terutama berasal dari gelombang laut, kemudian dibantu oleh arus laut, pasang surut, hembusan angin dan air hujan, disebut sebagai abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove.

Faktor yang mempengaruhi kecepatan erosi marine yaitu :
  • Gelombang dan arus laut, merupakan faktor utama penyebab dari erosi marine, utamanya gelombang pada saat terjadi badai maupun tsunami.


Kenampakan gelombang sebelum sampai pada garis pantai
  • Macam dan resistensi batuan, pada batuan yang mempunyai resistensi yang lemah, maka batuan ini akan lebih mudah terkikis. Hal ini dapat di lihat dari garis pantai yang berbeda.

  • Kedalaman laut lepas pantai. Semakin dalam laut lepas pantai, maka kekuatan ombak yang di hasilkan akan semakin besar.

  • Keterbukaan pantai  terhadap serangan ombak atau gelombang. Yang dimaksudkan di sini, tidak ada barrier atau pulau penghalang di depan pantai, sehingga kekuatan gelombang yang sampai pada pantai masih terlalu besar, yang di karenakan tidak ada penghalang yang meredam kekuatan gelombang.

  • Sifat-sifat struktur dari batuan seperti arah banyaknya rekahan atau sesar. Pada batuan yang mempunyai rekahan, maka akan lebih tidak resisten dan lunak sehingga mudah terabrasi oleh kekuatan gelombang.

  • Banyak sedikit dan besar kecilnya material pengikis yang diangkut oleh gelombang. Gelombang biasanya membawa material. Apabila material yang di bawa relatif besar, maka garis pantai, utamanya cliff (tebing) akan hancur oleh hantaman material yang dibawa oleh gelombang. Sedangkan gelombang yang tidak mengangkut material dapat mengikis batuan pada pantai , apalagi apabila gelombang membawa material.
Beberapa kenampakan hasil erosi pantai :
  • Dataran abrasi, yaitu suatu dataran hasil pengendapan dari abrasi gelombang laut

  • Geos, yaitu celah sempit dan dalam yang terdapat pada tepi pantai.

  • Arch, yaitu lengkungan alamiah yang terbentuk sebagai akibat hempasan gelombang laut

  • Stacks, yaitu lengkungan alamiah yang terpisah dari daratan karena runtuh

  • Cave, yaitu gua pantai yang terbentuk karena hempasan gelombang laut yang menghantam.
Dataran Abrasi
Suatu dataran hasil abrasi gelombang laut, dimana daerah ini merupakan berada pada zona pengrusakan oleh gelombang laut. Pada daerah ini, material darat terkikis sehingga semakin lama, akan semakin berkurang. Hal ini menyebabkan adanya proses kemunduran garis pantai.


Rekontruksi kemunduran garis pantai akibat hembasan gelombang

Pada gambar diatas, dapat kita lihat bagaimana bahwa gelombang yang datang dapat menghancurkan batuan penyusun pantai. Pada gambar kita lihat ada 2 jenis sifat batuan, yaitu terdapat batuan yang lunak dan batuan yang resisten (Gb.a). Pada saat gelombang datang dari arah depan, batuan yang mempunyai tingkat resistensi yang lemah akan terkikis lebih dahulu. Pada fase ini, akan terbentuk suatu teluk pada pantai tersebut (Gb.b). Selanjutnya, setelah terbentuk teluk, maka terjadi gelombang refraksi, gelombang ini berbelok karena bentuk morfologi pantai yang berbeda apabila di bandingkan dengan kondisi awal (sebelum terbentuk teluk). Gelombang ini menghantam batuan yang lebih resisten, sehingga mengakibatkan batuan yang lebih resisten terkikis kuat (Gb.c). Selanjutkan akan menciptakan suatu garis pantai yang lurus, yang pada akhirnya telihat garis pantai yang mengalami kemunduran, sehingga berakibat perusakan daerah pantai dan berkurangnya daerah daratan (Gb.d).
  • Arch dan Stack

Pasca terbentuknya teluk (Gb.a) yang terjadi akibat adanya abrasi gelombang, dimana batuan yang kurang resisten (soft rock) telah terabrasi terlebih dahulu, maka gelombang yang datang beserta pantulan menyebabkan adanya refraksi gelombang pada muka teluk. Hal ini menyebabkan terjadinya proses abrasi yang terjadi pada batuan yang resisten, yang berfungsi sebagai headland. Pada proses pengikisan (abrasi) ini, akan menghasilkan suatu lubang-lubang pada batuan yang terkena hantaman gelombang, baik pada pada batuan di teluk maupun headland (Gb.b). Pada headland, akan terjadi pengikisan pada dasar batuan yang mengalami kontak secara langsung dengan gelombang, sehingga akan menghasilkan suatu bentuk lubang dimana pada bagian atas masih menyambung dengan deratan. Hal ini menyerupai gapura-gapura, yang umumnya di sebut dengan “arch” (Gb.c).  Apabila suatu saat, “arch” ini terpisah, karena rubuhnya permukaan yang di atas, akan membentu suatu “stack” dimana terpisahkan oleh lautan di sekitarnya.


Rekontruksi pembentukan arch dan stack pada pantai

“Arch” dan “Stack” biasa juga pada penyusun batuan telah mengalami proses pelemahan, seperti halnya, telah terjadi struktur geologi (kekar maupun sesar) pada daerah tersebut. Hal ini akan menyebabkan batuan ini cukup rapuh, sehingga akan lebih mudah terabrasi.

Penampakan Arch (a), Stack (b), dan cave atau gua (c)

Sedangkan cave atau gua terbentuk karena gelombang yang menghantam langsung pada daerah berupa tebing. Terjadi pada daerah antara pasang maksimum dan surut maksimum. Hal ini terjadi pada energi gelombang yang tinggi. Pasang maksimum akan menghasilkan top dari cave, sedangkan surut maksimum akan menghasilkan bottom cave. Proses ini yang pada akhirnya akan menghasilkan tebing mundur, karena pada saat terbentuk lubang (goa), dan batuan di atas telah melampau batas elastisitasnya, maka batuan ini akan tidak mampu menahan dan jatuh ke bawah (longsor). Pada (Gb.c) menunjukkan adanya kemunduran garis tebing, dimana tebing awal berada pada posisi “1”, dan sekarang berada pada posisi ke “3”.


Minggu, 27 Maret 2011

PEMBUATAN PENAMPANG GEOLOGI “MANUAL”

Dalam pembuatan penampang GEOLOGI secara manual, hal yg perlu di perhatikan adalah cara penarikan sayatan usahakan tegak-lurus dengan strike/jurus kedudukan batuan. Hal ini untuk menghindari sebaran batuan yang seragam pada penampang geologi.

Hal kedua yang perlu di perhatikan adalah sudut bearing dan dip. Bearing dan dip digunakan untuk koreksi kemiringan bantuan pada penampang geologi. Bearing merupakan sudut yang di bentuk oleh garis sayatan dan perpanjangan dari strike batuan pada peta, dimana sudut yang di bentuk kurang dari 90 derajad. Sedangkan dip merupakan kemiringan batuan yang ada di lapangan.



Rumus koreksi dip:

Tan dip penampang =[ tan dip lapangan] x [sin bearing]



Untuk memudahkan perhitungan ini, tentunya kita butuh kalkulator untuk perhitungan trigonometri ini. Namun tidak semua kalkulator mampu untuk menghitung perhitungan ini, apalagi kalkulator penjual terong di pasar. Salah satu tips adalah dengan menggunakan ms. office excel, atau juga dengan membuat software sendiri menggunakan visual basic (tp aq belum mampu membuat software ini... hahahaahahah...)



Perhitungan via excel:

=DEGREES(ATAN((TAN(RADIANS(B2)))*(SIN(RADIANS(C2)))))



Untuk bukaan dip terkoreksi pada penampang geologi, perhatikan saja mana batuan yg lebih tua. Kan bisa interpretasi langsung di peta…

So... lanjutkan bikin profil linenya... TKP...

Mengintip Bumi Menggunakan "Remote Sensing"

ADA perpaduan dua teknologi yang menciptakan perhatian dan terapan yang paling besar dan cakupan yang luas atas berbagai disiplin ilmu, yaitu remote sensing (pengindraan jarak jauh) dan penyelidikan antariksa.

Penelitian bumi dari angkasa/antariksa telah bergeser dari bidang penelitian murni ke bidang aplikasi (terapan) dalam kehidupan sehari-hari. Dewasa ini, kita bergantung pada sensor wahana antariksa untuk membantu tugas-tugas mulai dari prakiraan cuaca, peramalan tanaman, penghitungan potensi tegakan (kayu) hutan, peneli-tian lahan dan sumber daya mineral, sampai kepada terapan yang beraneka ragam seperti pendeteksian pencemaran, pemantauan daerah ternak, perikanan komersial, bahkan dalam sistem pertahanan/keamanan memantau aktivitas kemiliteran sebuah negara (seperti yang dilakukan Amerika terhadap negara lain).

Teknologi pengindraan jarak jauh terus-menerus berubah dari waktu ke waktu menuju peningkatan detail objek pantau. Hal itu dilakukan dengan peningkatan dan atau perbaikan teknologi wahana dan pesawat-pesawat terbang atau pesawat antariksa yang baru serta penempatannya di orbit bumi.

Pengindraan jarak jauh dikenal sebagai suatu ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena. Informasi diperoleh melalui analisis data piktorial dan/atau numerik yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Pengumpulan data dari jarak jauh dilakukan dengan berbagai bentuk termasuk dengan teknik pemancaran daya, pemancaran gelombang bunyi, atau pemancaran dan penangkapan energi gelombang elektromagnetik. Sebagai contoh, suatu grafimeter memperoleh data pada variasi penyebaran daya tarik bumi. Sonar pada sistem navigasi di air memperoleh data tentang variasi dalam pemancaran gelombang bunyi. Mata kita pun mendapat data dari variasi pemancaran energi elektromagnetik dari benda-benda yang kita lihat.

Secara skematik menunjukkan gambaran umum proses dan elemen yang terkait di dalam sistem remote sensing dengan energi elektromagnetik untuk suatu sumber daya alam. Hal ini meliputi dua proses utama, yaitu pengumpulan data dan analisis data. Elemen proses pengumpulan data meliputi sumber energi, perjalanan energi melalui atmosfer, interaksi antara energi dengan kenampakan di muka bumi, sensor wahana pesawat terbang dan/atau satelit, dan hasil pembentukan data dalam bentuk piktorial dan/atau bentuk numerik.

Singkatnya, kita menggunakan sensor untuk merekam berbagai variasi pancaran dan pantulan energi elektromagnetik dari kenampakan di muka bumi. Proses analisis data meliputi pengujian data dengan menggunakan alat interpretasi dan alat pengamatan untuk menganalisis data piktorial, dan atau komputer untuk menganalisis data sensor numerik.

Data rujukan tentang sumber daya yang dipelajari (seperti peta tanah, data statistik tanaman, atau data uji medan) digunakan untuk membantu analisis data. Dengan bantuan data rujukan analisis mengambil informasi tentang jenis, bentangan, lokasi, dan kondisi berbagai sumber daya yang dikumpulkan sensor. Informasi ini kemudian disajikan, biasanya dalam bentuk peta, tabel, dan suatu bahasan tertulis atau laporan. Akhirnya informasi tersebut diperuntukkan bagi para pengguna yang memanfaatkannya untuk proses pengambilan keputusan.

Foto udara

Salah satu bentuk pengindraan jauh yang paling umum, ekonomis dan banyak digunakan adalah foto udara. Manfaat utama foto udara bila dibandingkan dengan pengamatan di lapangan meliputi beberapa hal sebagai berikut :

- Meningkatkan Titik Keuntungan

Fotografi udara memungkinkan untuk mengamati gambar yang besar yang di dalamnya terdapat objek-objek yang diinginkan. Foto udara memperlihatkan kenampakan menyeluruh di mana semua yang ada di muka bumi yang dapat diamati dan direkam secara serentak. Namun informasi yang diperoleh bagi tiap orang yang mengamatinya akan berbeda tergantung dari keperluannya masing-masing. Hidrologis akan memusatkan perhatiannya pada tubuh air permukaan, geologis pada struktur batuan dan geomorfologinya, pakar pertanian pada jenis tanah dan tanamannya, dan sebagainya.

- Kemampuan untuk Menghentikan Kegiatan

Tidak seperti mata manusia, foto dapat memberikan suatu gambaran kegiatan yang terhenti atas kondisi yang bersifat dinamik. Foto udara sangat berguna untuk mempelajari fenomena yang dinamik dari banjir, populasi binatang liar yang bergerak, lalu lintas, tumpahan minyak, dan kebakaran hutan.

- Catatan Permanen

Foto udara pada dasarnya merupakan rekaman permanen atas kondisi yang ada. Rekaman tersebut dapat dipelajari dengan lebih enak, lebih banyak di kantor. Satu citra dapat dipelajari banyak pengguna. Foto udara juga dapat sebagai pembanding suatu data sejenis yang diperoleh pada waktu sebelumnya, sehingga perubahan sesuai dengan berlalunya waktu dapat dipantau.

- Kepekaan Spektral Diperlebar

Film dapat mengindra dan merekam pada rentang panjang gelombang sebesar dua kali lebih lebar daripada kepekaan mata manusia (0,3 - 0,9 mm dibandingkan 0,4 - 0,7 mm). Dengan fotografi, panjang gelombang ultraviolet dan inframerah pantulan yang tidak tampak dapat dideteksi, kemudian direkam dalam bentuk citra yang tampak, sehingga kita bisa melihat fenomena yang tidak tampak oleh mata.

- Meningkatkan Resolusi Spasial dan Ketelitian Geometrik.

Melalui pemilihan yang tepat atas kamera, film, dan parameter penerbangan, kita dapat merekam data keruangan yang lebih rinci pada foto dibandingkan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Data tersebut tersedia untuk kita dengan mengamati foto udara tersebut dibantu dengan pembesaran. Dengan data rujukan lapangan yang tepat, kita juga dapat memperoleh pengukuran teliti atas posisi, jarak, arah, luas, ketinggian, volume, dan lereng berdasarkan foto udara. Sesungguhnya, kebanyakan peta planimetrik dan peta topografik yang ada sekarang dihasilkan dengan menggunakan pengukuran-pengukuran dari foto udara.

Balon udara

Awal foto udara mulai diperkenalkan pada tahun 1858. Saat itu seorang juru potret dari Paris, Gaspard Felix Tournachon mengunakan sebuah balon udara sampai ketinggian 80 m untuk mengambil gambar daerah Bievre, Prancis. Setelah kejadian tersebut pemotretan dari balon berkembang di mana-mana. Foto udara yang paling awal yang dibuat James Wallace Black di Amerika, dari sebuah balon pada ketinggian 365 m di atas kota Boston pada tahun 1860. Foto tersebut kemudian diabadikan Oliver Wendell Holmes yang menguraikannya pada majalah Atlantic Monthly. "Bulan Juli 1863: Boston ketika rajawali dan burung camar melihatnya, tampak sebagai objek yang jauh berbeda dengan ketika penduduknya yang padat melihat atap-atap dan cerobong asapnya," tulisnya.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1882 foto udara mulai digunakan untuk memperoleh data meteorologi dengan menggunakan layang-layang. Foto udara dengan menggunakan layang-layang dilakukan seorang ahli meteorologi berkebangsaan Inggris, E.D. Archibald. Awal dasawarsa 1900-an, pemotretan dari layang-layang yang dilakukan G.R. Lawrence dari Amerika telah menarik perhatian dunia. Pada tanggal 18 April 1906, ia memotret San Fransisco setelah kejadian bencana gempa bumi besar dan kebakaran. Ia memasang kameranya yang berukuran besar sampai ketinggian 600 m, dan menghasilkan foto negatif berukuran 1,4 x 2,4 m.

Pesawat udara, yang ditemukan pada tahun 1903, tidak digunakan sebagai wahana bagi kamera. Namun pada tahun 1909, ketika seorang juru potret gambar kehidupan biosfir menemani Wilbur Wright dan memotret gambar hidup yang pertama di atas Centovelli, Italia.

Perolehan foto udara menjadi hal yang jauh lebih praktis dengan pesawat terbang dibandingkan dengan balon dan layang-layang. Pemotretan dari pesawat terbang menjadi perhatian yang besar bagi sandi kemiliteran selama Perang Dunia I, bahkan pada Perang Dunia II.

Sampai saat ini kegiatan mengintip bumi dari angkasa untuk membuat foto udara telah berkembang untuk berbagai tujuan. Mulai dari penyelidikan geologi, tanah, penggunaan lahan dan pertanian, kehutanan, sumber daya air, perencanaan kota dan wilayah, pemetaan lahan basah, terapan untuk ekologi satwa liar, kepurbakalaan, Amdal, dan selanjutnya dikembangkan untuk menyusun SIG (Sistem Informasi Geografi).

"Remote sensing" dari antariksa

Perintisan pertama pengindraan jauh (disingkat dengan indraja) dari antariksa adalah pengindraan dengan menggunakan roket. Suatu hak paten telah dianugerahkan kepada Ludwing Rahrmann dari Jerman atas karyanya penemuan dan pengembangan perangkat untuk memperoleh pandangan fotografik mata burung pada awal tahun 1891. Perangkat tersebut adalah berupa sistem kamera roket berbaling-baling yang dikendalikan dengan parasut pada saat kembali ke darat. Pada tahun 1907, seorang Jerman lainnya bernama Alfred Maul telah menambahkan konsep girostabilisasi (gyrostabilization) pada sistem kamera roket tersebut. Ia berhasil meluncurkan suatu beban seberat 41 kg berisi suatu kamera berukuran 200 x 250 mm hingga ketinggian 790 m pada tahun 1912.

Indraja dari antariksa diawali sebagi modelnya pada periode waktu 1948 hingga 1950 dengan peluncuran roket V-2 yang diperlengkapi dengan kamera, dan peluncurannya dilakukan dari Landasan Percobaan White Sand, di New Meksiko. Pada tahun-tahun berikutnya, sejumlah penerbangan dengan fotografi dilakukan dengan roket, peluru kendali, satelit, dan pesawat antariksa berawak. Akan tetapi foto yang dihasilkan pada awal penerbangan antariksa tersebut kurang baik kualitasnya, sebab misi awal itu dilakukan terutama untuk tujuan yang bukan bagi pemotretan. Walaupun kualitas foto tersebut kurang baik bila dibandingkan dengan bakunya sekarang, foto awal tersebut menampilkan nilai potensial indraja dari antariksa.

Pada awal-awalnya upaya penggambaran permukaan bumi lebih cenderung ke arah insidental untuk pengembangan satelit cuaca, yang diawali dengan TIROS pada tahun 1960. Namun pada periode dasawarsa selanjutnya, perkembangan teknologi indraja khususnya dari antariksa menjadi semakin nyata dengan dikembangkannya program pesawat antariksa berawak seperti Merkury, Gemini, dan Apollo.

Pemandangan

Pada tanggal 5 Mei 1961, Alan B. Shepard Jr. melakukan penerbangan Mercury suborbital selama 15 menit dan berhasil membuat 150 citra foto yang sangat bagus. Foto tersebut dibidik dengan kamera otomatik Mauer 70 mm. Foto tersebut memang hanya menggambarkan langit, awan, dan laut, sesuai dengan sistem lintasan terbang yang dilakukan Shepard, tetapi citra tersebut benar-benar mendukung pernyataan Shepard, "Alangkah indahnya pemandangan ini."

Suatu kamera Hasselblad yang dimodifikasi dengan lensa 80 mm menjadi alat pada percobaan pemotretan pada program Gemini (GT-4). Program ini meliputi pemotretan formal pertama dari antariksa yang diarahkan secara khusus untuk geologi. Liputannya termasuk foto hampir tegak lurus daratan Amerika Serikat bagian Barat Daya, Meksiko bagian Utara, dan daerah lain di Amerika Utara, Afrika, dan Asia. Citra tersebut dengan segera mengarahkan penemuan baru dan mengejutkan di bidang tektonik, vulkanologi, dan geologi morfologi. Keberhasilan misi GT-4 dilanjutkan dengan penelitian berbagai gejala geografik dan oseanografik.

Pengetahuan dan pengalaman dari misi GT-4 ini kemudian diperluas dengan program Apollo (sebelum pendaratan di bulan) yang dilengkapi dengan percobaan terkendali pertama meliputi perolehan foto orbitasi multispektral untuk mengkaji berbagai sumber daya bumi. Dalam percobaan Apollo (Apollo 9) digunakan empat kamera Hasselblad 70 mm yang di-gerakkan secara elektrik. Foto yang dihasilkan dipotret dengan film pankromatik hitam putih dengan filter hijau dan merah, film infra merah hitam putih, dan film berwarna. Diperoleh 140 rangkaian (set) foto citra meliputi Amerika Serikat bagian Barat Daya, tengah Selatan, dan Tenggara, dan juga sebagaian daerah Meksiko dan kepulauan Karibia.

Tahun 1973, laboratorium antariksa Amerika pertama Skylab, diluncurkan, dan antariksawannya membuat citra bumi sebanyak 35.000 citra dengan program Paket Percobaan Sumber Daya Alam (Earth Resources Experiment Package/EREP).

Stasiun percobaan antariksa yang lain dibuat pada tahun 1975 dengan dilengkapi dengan komponen remote sensing hasil kerja sama Amerika Serikat dengan Uni Sovyet, Apollo Soyuz Test Project (ASTP). Sayangnya pada proyek tersebut digunakan lagi kamera tangan 35 mm dan 70 mm, karena tujuannya yang bukan untuk pengindraan sumber daya bumi. Di samping itu, oleh berbagai sebab, maka kualitas keseluruhan citra yang diperoleh pada proyek ASTP mengecewakan. Meskipun demikian, misi ASTP membuktikan bahwa awak yang terlatih dapat memperoleh data sumber daya bumi yang bermanfaat dan kadang-kadang wahid (unique) dengan pengamatan visual dan pengindraan yang bijaksana.

Berdasarkan hasil yang diperoleh atas penampakan sumber daya bumi yang di-sajikan satelit cuaca dan misi antariksa berawak, maka NASA, dengan dibujuk untuk kerja sama oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat, memulai melakukan kajian konseptual atas kelayakan seri Satelit Teknologi Sumber daya Bumi (Earth Resources Technology Satellite/ERTS). Diawali dalam tahun 1967, program tersebut membuahkan rencana urutan enam buah satelit yang sebelum peluncurannya diberi nama ERTS A, B, C, D, E, dan F (setelah peluncurannya berhasil mengorbit, sesuai dengan rencana maka namanya diubah menjadi ERTS 1, 2, 3, 4, 5, dan 6).

Satelit ERTS-1 diluncurkan dengan roket pendorong Thor-Delta pada tanggal 23 Juli 1972, dan satelit ini beredar hingga tanggal 6 Januari 1978. Wahana yang digunakan untuk sensor ERTS-1 ialah satelit cuaca Nimbus yang diubah untuk tujuan misi ERTS-1. Satelit ini merupakan satelit tak berawak pertama yang dirancang untuk memperoleh data tentang sumber daya bumi dengan cara sistematik, berulang, beresolusi sedang. Berdasarkan data multispektral satelit tersebut, terutama dirancang sebagai suatu sistem percobaan untuk menguji kelayakan bagi pengumpulan data sumber daya bumi dari satelit berawak.

Berbagai negara di dunia diundang untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan evaluasi kelayakan tersebut, dan hasil percobaan dalam lingkup dunia dengan sistem ini sangat menggembirakan. Pada kenyataannya hasilnya melampaui harapan para ilmuwan. Kira-kira 300 percobaan secara terpisah dengan percobaan ERTS-1 dilakukan di 43 negara bagian Amerika Serikat dan 36 negara lain.***

Kamis, 03 Februari 2011

Tan Malaka


Siapakah Tan Malaka? Dalam sejarah Indonesia ia sosok yang misterius. Buku-buku sejarah yang terbit setelah tahun 1965 tidak pernah mencantumkan namanya, apalagi kisahnya. Perannya dalam sejarah Indonesia kabur, padahal pada tahun 1963 Presiden Indonesia Soekarno secara resmi mengangkatnya menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Dalam konteks Orde Baru ia adalah pahlawan nasional yang kontroversial karena ia termasuk dalam golongan orang-orang komunis (menurut orang-orang dari partai nasionalis dan partai agama), golongan yang amat ditabukan untuk menjadi pahlawan pada periode sejarah ini. Oleh karena itu ia sempat dilenyapkan dalam barisan pahlawan nasional. Namanya dicoret dari Album Pahlawan Bangsa, yang mengindikasikan jika saja ia belum mendapatkan gelar tersebut sebelum tahun 1965 kemungkinan besar gelar itu tidak akan pernah diraihnya sama sekali.

Pada masa Orde Baru pengagum dan yang mengenal sosoknya hanyalah para veteran Partai Murba dengan jumlah yang amat kecil. Sosoknya memudar dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia seiring dengan proses stigmatisasi terhadap apapun yang berhaluan kiri. Dengan ragu-ragu Harry A. Poeze mengatakan bahwa jikalau ia disebut dalam buku pelajaran sejarah ia ditempatkan dalam posisi sebagai seseorang yang telah memperlemah persatuan dalam perjuangan revolusi. Di tanah kelahirannya Minangkabau ia sempat menjadi keramat, menjadi mitos. Pada 1950-an, di berbagai kota dan desa di Minangkabau setiap orang tua menceritakan kepada anak-anaknya kehebatan Tan Malaka, yang konon bisa menghilang secara gaib dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, yang jaraknya terpaut ratusan kilometer, hanya dalam satu kedipan mata. Sebelum ia kembali dan menetap di Indonesia, sejak tahun 1913 memang menjadi pengembara  yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jarak tidak hanya ratusan kilometer bahkan ribuan kilometer, namun bukan dalam satu kedipan mata. Pengangkatannya sebagai pahlawan dan pemitosannya oleh sekelompok masyarakat menjadi simbol bahwa Tan Malaka merupakan sosok yang bersepak terjang jauh melebihi sepak terjang masyarakat kebanyakan.

Riwayat Tan Malaka dalam panggung sejarah Indonesia dimulai tahun 1913 ketika salah seorang gurunya (G.H. Horensma) di sekolah guru di Bukittinggi membawanya ke negeri Belanda sewaktu yang bersangkutan mengambil cuti. Ia kemudian dimasukan ke sekolah guru (Kweekschool) di Haarlem. Harry A. Poeze dalam bukunya yang lain mengemukakan bahwa selama tinggal di negeri Belanda Tan Malaka menanggung banyak hutang kepada pemberi dana pendidikan di Sumatera dan kepada guru yang membawanya ke negeri Belanda. Hutang yang menumpuk dan kondisi kesehatan yang beberapa kali menurun membuat motivasinya untuk belajar menurun. Tahun 1919 ia angkat koper dan menjadi guru anak-anak kaum buruh perkebunan tembakau di Sumatera Timur setelah sebelumnya memperoleh ijazah guru.

Tan Malaka berada di negeri Belanda ketika gagasan revolusioner sedang tumbuh di seluruh kawasan Eropa. Ide-ide Karl Marx tentang komunisme sedang disemai dalam ujudnya yang praksis. Buku terbaru dari Harry A. Poeze yang sedang kita diskusikan ini sayangnya tidak mengungkap pengembaraan Tan Malaka di Eropa sehingga tidak jelas benar bagaimana ide-ide komunisme mulai menariknya, sampai ia menerjuninya secara praksis. Di negeri  Belanda lah minat politik Tan Malaka tergugah dan terbentuk. Ia menjadi seorang nasionalis yang berkobar-kobar sekaligus menjadi simpatisan komunisme yang aktif. Ia sangat tertarik dengan kemenangan revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917. Gagasan-gagasannya terbentuk antara lain di dalam kelompok diskusi yang ditokohi oleh Sneevliet dan gagasan itu ia lahirkan kembali dalam bentuk artikel. Aktifitas Sarekat Islam (SI) yang sedang marak di Jawa bisa jadi telah terdengar di telinga Tan Malaka, sehingga tahun 1921 ia meninggalkan gaji yang lumayan tinggi di perkebunan Senembah, Deli, Sumatera Timur lalu berangkat ke Jawa. Perkenalannya dengan Sarekat Islam melalui seorang sahabatnya, R. Soetopo, guru Sekolah Pertanian di Purworejo. Soetopo membawa Tan Malaka ke kongres Centrale Sarekat Islam (CSI) di Yogyakarta yang berlangsung pada tanggal 2-6 Maret 1921. Di tempat inilah Tan Malaka bertemu dengan Semaoen, tokoh pendiri PKI. Semaoen sangat tertarik dengan Tan Malaka karena konon, baginya Tan Malaka merupakan Bumiputra terpelajar pertama yang mengenal dan akrab dengan Marxisme. Kongres CSI di Yogyakarta berlangsung dalam suasana persaingan antara Sarekat Islam dan PKI. Seperti kita ketahui PKI lahir dari rahim Sarekat Islam dengan julukan ”Sarekat Islam merah”. Hubungan antara SI dan PKI secara resmi terputus pada Kongres Luar Biasa CSI di Surabaya tanggal 6-10 Oktober 1921. Dalam perpecahan inilah Tan Malaka lebih tertarik kepada PKI dibandingkan dengan SI.

Kedatangan Tan Malaka ke Jawa bagi Semaoen merupakan darah segar yang memberi gairah baru dalam konteks persaingan dengan SI dalam rangka menarik lebih banyak kader-kader SI agar bergabung dengan PKI. Semaoen kemudian meminta Tan Malaka untuk datang ke Semarang dan diajak untuk mendirikan sekolah berdasarkan doktrin Marxisme untuk anak-anak anggota SI. Pada tanggal 21 Juni 1921 berdirilah sekolah pertama dengan murid sebanyak 50 anak. Pada Maret 1922 sekolah sejenis telah tersebar sampai ke Bandung dengan 200 murid. Pendirian sekolah-sekolah ini sangat berhasil sehingga melambungkan nama Tan Malaka sehingga pada kongres PKI ke-8  di Semarang tanggal 25 Desember 1921 ia terpilih menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen karena Semaoen berangkat ke Moskow.

Periode ini ditandai dengan semakin mengerasnya pertentangan antara SI dengan PKI yang ditandai saling kritik antara keduanya. Tan Malaka walaupun ia aktif di PKI tetapi ia berlatar belakang Islam. Dalam konteks ini ia tetap mempertautkan antara Islam sebagai ideologi perjuangan dengan komunisme sebagai ideologi yang sekaligus juga sebagai jalan perjuangan. Agus Salim dari kubu SI secara tegas menekankan sifat revolusioner SI tetapi tidak demi kepentingan satu kelas saja dalam masyarakat. Jika  ada perjuangan nasional yang hanya mewakili kepentingan satu kelas masyarakat saja, SI akan menentangnya. Menerima argumen tersebut berarti mematuhi disiplin partai mengenai larangan terhadap keanggotaan rangkap. Tan Malaka mencoba menangkis dengan mengatakan agar pengecualian dibuat terhadap PKI, sebab komunis merupakan sekutu Islam di mana saja dalam melawan imperialisme.  Bahkan Semaoen menambahkan, jika SI meninggalkan sayap kirinya maka SI akan kembali ke tahap awal, yaitu sebagai organisasi pedagang Islam belaka.  Semaoen bahkan mengkritik peran agama (Islam) sebagai alat untuk bergerak. Menurutnya agama tidak mencukupi sebagai dasar pergerakan rakyat Hindia karena bisa saja memihak kepada ideologi kapitalis atau sosialis. Selain itu tidak semua orang Hindia beragama Islam.  Terhadap semua itu Agus Salim menjawab bahwa dalam Al Qur’an segala doktrin Marxisme sudah tercakup, termasuk Dialektika Materialisme. Masalahnya SI tidak mungkin membiarkan diri sebagai ajang pertarungan partai lain. Bahkan Agus salim tidak khawatir jika banyak anggota SI yang keluar hanya karena SI menerapkan disiplin partai dengan tidak menjadi anggota di dua organisasi (partai). Ia lebih mantap jika SI menjadi partai kader yang kuat dari pada partai yang banyak anggotanya tetapi keropos.

Tan Malaka sebenarnya tidak pernah rela CSI terpecah menjadi SI dan PKI, ia menghendaki keduanya tetap bersatu karena hanya dengan cara itulah bangsa Indonesia bisa menghadapi tekanan dari penjajah. Seruan untuk bersatu menjadi tema besar kongres PKI ke-8 pada tanggal 25 Desember 1921 di Semarang. Untuk membahas cara mencapai persatuan itu maka diundang pula utusan CSI, Sarekat Hindia, dan SI lokal. Dalam kesempatan itu Tan Malaka berpidato selama empat jam lamanya untuk membela gagasan persatuan itu. Persatuan juga merupakan garis yang sejak semula dianut oleh pendahulunya, Semaoen. Dalam pidato itu Tan Malaka membandingkan sukses Kongres Nasional India dan gagalnya organisasi pergerakan Indonesia menggalang persatuan. Kongres Nasional India mampu melancarkan gerakan nonkooperasi yang tidak bisa ditindas oleh Inggris, sementara pergerakan Indonesia terpecah belah menghadapi Belanda yang jauh lebih lemah daripada Inggris.

Pidato Tan Malaka tersebut sebenarnya didukung oleh semua peserta kongres namun kemudian dimentahkan kembali oleh Abdoel Moeis yang datang setelah pidato selesai. Abdoel Moeis membuka luka lama tentang hubungan SI dan PKI yang membuat pemimpin komunis bergaris keras menggugat sehingga persatuan kembali terancam, jika saja KH. Bagus Hadikusumo, utusan Muhammadiyah tidak turun tangan. Ia angkat bicara membela pidato Tan Malaka. Menurut Hadikusumo mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, dan pergerakan bertujuan melawan penindasan bangsa asing yang kafir. Gerakan perlawanan hanya dapat dijalankan jika rakyat bersatu. Ia menyeru bahwa siapa saja yang merusak persatuan berarti memihak musuh dan menentang Islam. Seruan Hadikusumo cukup manjur karena dapat mencegah perpecahan yang lebih parah. Tan Malaka mengibaratkan Hadikusumo sebagai dukun ampuh yang menolong seorang yang sedang sekarat. Akhirnya CSI sepakat untuk bekerja sama kendati hanya dalam program-program khusus. Kongres memilih Tan Malaka sebagai ketua menggantikan Semaoen. Kongres ditutup dengan mengirim telegram yang menyatakan dukungan kepada Kongres Nasional India. Namun telegram itulah yang kemudian menjadi senjata makan tuan bagi Tan Malaka, sehingga ia tidak bisa mengawal ide persatuan yang lahir dari kongres itu. Tidak lama setelah telegram terkirim, Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang dari Hindia Belanda karena dukungannya terhadap Kongres Nasional India.  Maret 1922 ia berangkat kembali ke negeri Belanda, yang segera disambut sebagai martir dari kolonialisme Belanda oleh kawan-kawan seperjuangannya di Belanda. Sosoknya ditempatkan pada posisi yang amat tinggi dengan dicalonkan menjadi anggota Tweede Kamer dari golongan komunis pada pemilu bulan Juli 1922 di Belanda. Namun usaha kawan-kawannya tersebut gagal karena partainya hanya mendapat dua kursi (Tan Malaka ditempatkan dalam urutan ketiga dalam daftar calon). Dari sini perjalanan petualangannya yang lebih jauh, baik secara fisik maupun intelektual, dimulai. Ia menghabiskan waktunya dari satu negara ke negara lainnya selama duapuluh tahun, sampai ia memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 1942 bersamaan dengan didudukinya Indonesia oleh Bala Tentara Jepang.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa selama periode pergerakan nasional, peran Tan Malaka dalam waktu yang amat singkat di tanah airnya ternyata amat besar. Ketika berbagai organisasi masih berkutat pada persoalan-persoalan domestik, Tan Malaka telah menyerukan bahwa tanpa persatuan mustahil perjuangan melawan penjajah akan berhasil.

Ba'asyir Didakwa Pasal Hukuman Mati


JAKARTA, KOMPAS.com - Tersangka teroris Abu Bakar Ba'asyir dijerat pasal dengan ancaman hukuman maksimal berupa hukuman mati oleh jaksa penuntut umum (JPU). Ba'asyir akan didakwa terkait dugaan keterlibatan kegiatan terorisme di Aceh dan Medan, Sumatera Utara.

M Yusuf, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, mengatakan, Ba'asyir didakwa dengan pasal berlapis. Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu didakwa melakukan perencanaan, menggerakan, permufakatan jahat, hingga memberikan atau meminjamkan dana untuk kegiatan terorisme.

Ba'asyir didakwa terlibat kegiatan pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho Aceh Besar. Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Ngurki, Solo, Jawa Tengah, itu juga didakwa terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Medan.

Untuk dakwaan primer, kata Yusuf, Ba'asyir didakwa Pasal 14 Jo Pasal 9 UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme. "Ancaman dakwaan primer itu hukuman mati atau seumur hidup," ucap Yusuf di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (2/2/2011).

Yusuf datang bersama para JPU yang menangani kasus Ba'asyir ke PN Jaksel dalam rangka melimpahkan perkara Ba'asyir. "Selain berkas perkara, kita limpahkan lampiran-lampiran, dokumen transfer, rekap komunikasi lewat handphone," ucap dia.

Ketua tim JPU Andy M Taufik mengatakan, untuk dakwaan subsider, Ba'asyir dijerat pasal 14 Jo Pasal 7, lebih subsider Pasal 14 Jo pasal 11, lebih lebih subsider Pasal 15 Jo Pasal 9. "Kebawahnya lagi Pasal 15 Jo Pasal 7, kebawahnya lagi pasal 15 Jo Pasal 11, terakhir Pasal 13 huruf a," jelas dia. Untuk dakwaan kedua itu, ancaman hukuman tiga tahun sampai 15 tahun penjara.

Dikatakan Andy, total saksi dalam berkas perkara Ba'asyir 138 orang. Mengenai barang bukti berupa berbagai peralatan militer disimpan di Densus 88 Anti Teror Polri.

Sidang di PN Jaksel

Yusuf mengatakan, sampai saat ini lokasi sidang masih tetap di PN Jaksel. Penetapan lokasi itu sesuai keputusan Mahkamah Agung dengan Nomor 008 tanggal 13 Januari 2011. Dikatakan dia, Kejaksaan, Pengadilan, serta kepolisian telah berkoordinasi untuk pengamanan selama jalannya sidang.

"Apabila ada perkembangan, nanti akan dibicarakan lagi dengan aparat pengamanan. Tapi saya rasa dari sisi pengamanan, Pengadilan Jakarta Selatan saya kira aman," ucap dia.



sumber: http://nasional.kompas.com/read/2011/02/02/13242649/Baasyir.Didakwa.Pasal.Hukuman.Mati

Rabu, 02 Februari 2011

Badai Matahari, materialnya diperkirakan mencapai Bumi!

Badai matahari terbentuk karena terjadinya gejolak di atmosfer matahari yang dipicu terbentuknya bintik hitam. Kondisi ini dapat mengakibatkan loncatan api (solar flare) yang materinya dapat terlontar ke Bumi. Ketika materi tersebut melintas di atmosfer Bumi, maka terjadilah Aurora dan badai elektromagnetik.

Partikel dari badai Matahari tersebut diperkiran sampai ke Bumi pada tahun 2011-2012. Partikel bermuatan listrik ini dapat menghasilkan noise atau gangguan besar pada frekuensi radio 1,2GHz - 1,6GHz. Ini sangat mengancam sinyal GPS.

“Jumlah dan intensitas noise akan meningkat dan dapat mengaburkan sinyal GPS selama periode ini,” kata Paul Kintner dari Departemen Teknik Elektro Universitas Cornell. Keakuratan GPS akan berkurang hingga 90%, dan dapat rusak. Hal ini sangat membahayakan dunia penerbangan, di mana fungsi GPS sudah seperti “nafas pada Manusia.

Hal ini pernah terjadi beberapa tahun silam, tepatnya pada akhir oktober 2003. Pada waktu itu, tidak hanya satelit GPS saja yang rusak, tapi juga satelit komunikasi publik.

Namun, yang paling bahaya adalah apabila distribusi listrik terganggu…! Pada 28-30 Oktober 2003, hampir seluruh pembangkit listrik di dunia dinonaktifkan untuk sementara. Apabila listrik tidak dimatikan, maka akan terjadi kerusakan pada pembangkit-pembangkit listrik di setiap negara. Hal ini disebabkan karena terjadinya ketidakstabilan medan magnet di Bumi.

Dampak di Bumi
Terdapat beberapa dampak badai antariksa yang terjadi tanggal 28 dan 30 Oktober 2003. Dari pengamatan lapisan ionosfer di Tanjungsari, Sumedang, diketahui terjadi penurunan kerapatan elektron secara drastis di lapisan tersebut. Bahkan, begitu rendahnya kerapatan elektron di lapisan ionosfer itu membuat peralatan ionosonda IPS71 tidak mampu merekam keberadaan lapisan tersebut.
Keadaan seperti itu disebut blackout (lihat ilustrasi gambar 2), dan di dunia komunikasi radio ditandai dengan putusnya komunikasi secara tiba-tiba dalam waktu cukup lama. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan sinyal gelombang pendek yang dipancarkan dari Kota Songkla (Thailand bagian selatan) dan diterima di Tanjungsari (gambar 3).

Pada tanggal 30 Oktober 2003, komunikasi Songkla-Tanjungsari putus sampai dua kali. Pertama, blackout selama sekitar empat jam terjadi antara pukul 02.36 WIB sampai dengan pukul 06.36 WIB, dan yang kedua kalinya berlangsung selama lima jam mulai pukul 08.36 WIB sampai 13.36 WIB.
Di antara kejadian blackout pertama dengan yang kedua, sinyal radio masih dapat diterima di Tanjungsari, namun sangat lemah.
Pemantauan sinyal gelombang RRI Jakarta pada frekuensi 9,680 MHz dan ABC Australia pada frekuensi 21,680 MHz juga mengalami gangguan pada hari itu. Bahkan, siaran RRI Jakarta, yang secara rutin dipantau sekitar pukul 9.00 WIB, pada hari itu tidak bisa dipantau.

Siaran ABC, yang dipantau setiap hari pukul 11.00-11.30 WIB, penerimaannya sangat buruk dan tidak seperti hari-hari sebelumnya. Keadaan serupa juga masih terjadi pada hari berikutnya. Bahkan, sinyal gelombang ABC Australia yang sehari sebelumnya masih dapat dipantau, tanggal 31 Oktober 2003 sama sekali tidak dapat dipantau.

Dampak yang lain lagi adalah meningkatnya ketinggian lapisan ionosfer. Beberapa saat sebelum blackout, tanggal 30 Oktober 2003, ketinggian lapisan ionosfer di atas Tanjungsari cenderung meningkat dan sesaat setelah blackout ketinggian lapisan ionosfer mencapai lebih dari 700 km dari permukaan Bumi. Ketinggian lapisan ionosfer normal biasanya hanya sekitar 300-500 km.

Ketinggian yang abnormal seperti ini juga masih terjadi pada tengah hari tanggal 31 Oktober 2003. Kenaikan ketinggian lapisan ionosfer secara drastis ini juga akan menyebabkan putusnya komunikasi radio. Keadaan yang tidak normal kemungkinan juga akan berdampak terhadap satelit orbit rendah (LEO). Selain itu, kami juga mendeteksi adanya kemungkinan gangguan sintilasi terhadap sinyal satelit pada tengah malam tanggal 30 Oktober 2003 sampai dengan dini hari tanggal 31 Oktober 2003 selama lebih dari 6 jam.